Virus Corona COVID-19 Kian Mendunia, Kapan Akan Memuncak?

- 3/20/2020
Sudah 9.278 nyawa melayang. 130.538 pasien masih berjuang. Namun, 85.831 orang telah membuktikan, sakit karena Virus Corona jenis baru atau COVID-19 dapat disembuhkan.

Data itu dikutip dari www.worldometers.info/coronavirus, pada Kamis (19/3/2020). Hingga pukul 19.33 WIB, tercatat ada 225.647 kasus positif Virus Corona COVID-19 di seluruh dunia.

Sementara itu, kurva epidemi COVID-19 di China, sebagai negara pusat wabah, menunjukkan kasus Virus Corona jenis baru ini telah mencapai puncaknya sekitar tiga pekan lalu. Kini, kurva terus bergerak turun, ketika kasus baru semakin sedikit dan pasien yang sembuh kian banyak.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan, pandemi COVID-19 di dunia kini berpusat di Eropa. Karena kasus yang dilaporkan setiap hari lebih banyak dari yang tercatat di China pada puncak epideminya.

Italia, Iran, dan Spanyol tercatat sebagai negara dengan kasus terbesar di luar China dalam data peta Coronavirus COVID-19 Global Cases by Johns Hopkins CSSE. Jumlah kasus infeksi Virus Corona COVID-19 paling besar tercatat di China, dengan 81.137 kasus, berdampingan dengan Italia yang mencapai 35.713 kasus.

Angka kematian paling besar tercatat di Provinsi Hubei, China, yang mencapai 3.130 jiwa. Namun korban meninggal terbesar di luar China berada di Italia, yang menembus 2.978 jiwa.

Kasus infeksi Virus Corona COVID-19 terbesar ketiga tercatat di Iran, yang mencapai 17.361 kasus dengan kematian yang mencapai 1.135  jiwa. Sedangkan kasus terbesar keempat tercatat di Spanyol, yang mencapai 14.769 kasus dengan 638 kematian.

Covid-19
Secara total, Virus Corona COVID-19 saat ini telah menyebar ke 176 negara dan wilayah di seluruh dunia.

Para peneliti pun mencoba menelusuri. Mencari tahu apa yang membuat virus ini menyebar dengan mudah hampir ke seluruh dunia. Sejumlah analisis genetik dan struktural telah mengidentifikasi fitur kunci dari virus --protein di permukaannya-- yang mungkin dapat menjelaskan mengapa COVID-19 yang dipicu virus SARS-CoV-2 menginfeksi sel manusia dengan mudah.

Untuk menginfeksi sel, SARS-CoV-2 menggunakan protein lonjakan (spike protein) yang mengikat membran sel, suatu proses yang diaktifkan enzim sel tertentu. Analisis genom dari virus ini mengungkapkan protein lonjakan yang berbeda dari kerabat dekatnya, yakni SARS-CoV yang memicu severe acute respiratory syndrome (SARS) yang juga pernah mewabah pada 2002 lalu.

Meski pemicu COVID-19 dan SARS berasal dari satu famili, berdasarkan studi para ilmuwan, keduanya tidak memiliki situs aktivasi furin yang sama. Furin adalah enzim yang berfungsi sebagai aktivator protein dalam tubuh manusia.

Situs pembelahan mirip furin (furin-like cleavage site) baru-baru ini ditemukan dalam protein lonjakan SARS-CoV-2

Itu adalah temuan penting. Sebab, furin ditemukan di banyak jaringan manusia, termasuk paru-paru, hati, dan usus kecil, yang berarti virus itu berpotensi menyerang banyak organ, kata Li Hua, seorang ahli biologi struktural di Universitas Sains dan Teknologi Huazhong Wuhan, China.

Temuan ini dapat menjelaskan beberapa gejala yang diamati pada orang dengan Virus Corona, seperti gagal hati atau liver, kata Li, yang ikut menulis analisis genetik virus yang diunggah pada server pracetak ChinaXiv pada 23 Februari. SARS dan Virus Corona lain dalam genus yang sama dengan virus baru tidak memiliki situs aktivasi furin, katanya.

Ahli virus dari Universitas Cornell, Gary Whittaker mengatakan, situs aktivasi furin membuat virus itu berbeda dengan SARS dalam hal masuknya ke dalam sel, dan mungkin mempengaruhi stabilitas virus dan penularan," jelasnya, seperti dikutip dari Nature. Timnya menerbitkan analisis struktural lain dari protein lonjakan virus corona pada bioRxiv pada 18 Februari.

Beberapa kelompok lain juga telah mengidentifikasi situs aktivasi yang memungkinkan virus menyebar secara efisien di antara manusia.

Infografis Virus Corona Mereda di China, Menyebar di Dunia.

Di Indonesia, kasus COVID-19 yang terkonfirmasi positif sebanyak 309 orang. Sebanyak 15 pasien di antaranya telah sembuh, sementara 25 lainnya meninggal dunia. Menjadikan Indonesia sebagai negara di Asia Tenggara dengan tingkat kematian tertinggi 8,4 persen.

Profesor Amin Soebandrio dari Eijkman Institute menyatakan, penyebaran Virus Corona COVID-19 di dunia saat ini sangat dipengaruhi sesuatu yang membatasi gerak-gerik virus dan juga yang membatasi manusia itu sendiri. 

"Artinya kalau manusia tertular tapi tidak sakit, maka dia tidak akan menjadi sumber penularan ke orang lain, atau pun kalau dia menjadi sumber jumlahnya jadi lebih sedikit daripada yang sakit," kata Amin ketika dihubungi Liputan6.com. 

Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman ini menilai langkah penanganan di Indonesia akan sulit dibandingkan dengan negara lain, mengingat bentuk negara Indonesia yang kepulauan sedangkan negara lain kebanyakan adalah kontinental. Tapi hal itu juga membawa keuntungan bagi Indonesia lantaran virus tidak menjadi mudah menyebar karena ada lautan yang memisahkan tiap wilayahnya. 

"Jadi saat ini kita tidak bisa sepenuhnya meniru misalnya Korea atau China atau negara lain yang sudah dipandang berhasil walaupun belum 100%," ujar Amin. 

Langkah yang kini sangat perlu dilakukan, menurutnya, adalah mengidentifikasi dengan cepat siapa saja yang tertular dan kemudian membatasi supaya mereka tidak menjadi sumber penularan baru. 

"Begitu seterusnya yang tertular cepat dicari kontaknya, cepat dibatasi lagi, sehingga ruang gerak itu akan terbatas." 

Pada akhirnya, imbuh dia, partisipasi masyarakat akan menjadi faktor penting. Dalam hal ini, ia mengacu kepada upaya menjaga kebersihan dan kesehatan diri masing-masing. 

"Yang paling penting jadi kembali lagi ke partisipasi masyarakat menjadi sangat penting kalau semua orang menerapkan hal itu, artinya menjaga kebersihan dan dirinya supaya tidak tertular," ungkapnya. 

Ia pun menyayangkan masih banyaknya masyarakat yang masih belum menyadari tentang pentingnya menjaga kebersihan dan kesehatan diri, terlebih masih banyaknya orang yang berkumpul di luar rumah. 

"Setiap individu tidak boleh tertular dan tidak boleh menularkan ke orang lain itu saja." 

Maria Van Kerkhove, yang mengepalai unit penyakit WHO, memperingatkan, "tidak mungkin bagi kita untuk mengatakan kapan ini (Virus Corona COVID-19) akan memuncak secara global."

"Kami berharap lebih cepat daripada terlalu lama lagi," tegasnya.

Gelombang Kedua Pandemi COVID-19

Korea Selatan, China, dan Singapura adalah di antara negara-negara Asia yang menghadapi gelombang Virus Corona kedua, didorong oleh kasus-kasus impor (imported cases) dari luar negeri. 

China, tempat virus pertama kali dilaporkan muncul, melaporkan tidak ada kasus domestik baru pada hari Kamis untuk pertama kalinya sejak wabah dimulai, seperti dilansir BBC. 

Tetapi laporan itu melaporkan 34 kasus baru di antara orang yang baru saja kembali ke Tiongkok.

Singapura juga melaporkan 47 kasus baru, di mana 33 di antaranya impor, 30 di antaranya merupakan penduduk Singapura yang baru kembali. 

Korea Selatan juga mengalami lonjakan dalam kasus baru pada hari Kamis dengan 152, meskipun tidak jelas berapa banyak kasus impor. 

Sebuah klaster baru di sana berpusat di panti jompo di Daegu, di mana 74 pasien dinyatakan positif.

Jepang melaporkan tiga kasus baru pada Rabu 18 Maret. Tetapi Hokkaido, wilayah Jepang yang paling parah terkena dampaknya dengan 154 kasus, mulai mengakhiri keadaan daruratnya sejak akhir Februari, setelah para pejabat mengatakan penyebaran virus tampaknya akan berakhir.

Pejabat setempat mendesak orang untuk tetap berhati-hati dan tinggal di rumah, tetapi mengatakan "tidak ada lonjakan pasien yang terinfeksi yang menyebabkan kolapsnya lingkungan medis".

"Kami telah melakukan langkah-langkah kuat untuk menahan diri agar tidak keluar, tetapi mulai sekarang, kami akan bergerak ke tahap mengurangi risiko penyebaran infeksi sambil mempertahankan kegiatan sosial dan ekonomi," kata Hubernur Naomichi Suzuki.

Komisi Kesehatan Nasional China (NHC) melaporkan tidak ada kasus yang ditularkan di dalam negeri di China untuk pertama kalinya sejak virus muncul pada akhir Desember 2019.

Selain itu, juga dikatakan tidak ada kasus sama sekali di Wuhan, episentrum wabah yang berada dalam status lockdown sejak awal 2020. Namun, 34 kasus datang dari luar negeri.

Keempat negara semuanya telah menunjukkan keberhasilan dalam mengendalikan kasus-kasus domestik, tetapi ada kekhawatiran bahwa peningkatan kasus di negara lain dapat mengurai kemajuan mereka.

Sumber COVID-19 dari Manusia atau Alam?

Hasil penelitian yang dipublikasikan di jurnal ilmiah, Nature Medicine, menguak sumber Virus Corona COVID-19 ini sebelum menyebar ke seluruh dunia. Seperti dikutip dari Science Daily, hasil analisis data publik terkait sekuens atau urutan genom (genome sequence) dari SARS-CoV-2 dan virus terkait tidak ditemukan bukti bahwa virus tersebut diciptakan manusia di laboratorium.

"Dengan membandingkan data sekuens genom yang tersedia untuk strain Virus Corona yang telah diketahui, kami meyakini bahwa SARS-CoV-2 berasal dari proses yang alami," kata Kristian Andersen PhD, associate professor imunologi dan mikrobiologi di Scripps Research, yang menjadi salah satu penulis laporan studi tersebut.

Selain Andersen, sejumlah ilmuwan lain juga ikut andil dalam studi dan penulisan makalah berjudul, 'The proximal origin of SARS-CoV-2' itu. Termasuk, Robert F. Garry dari Tulane University, Edward Holmes dari University of Sydney, Andrew Rambaut dari University of Edinburgh, dan W. Ian Lipkin dari Columbia University.

Virus Corona adalah keluarga besar (famili) virus yang dapat menyebabkan penyakit dengan tingkat keparahan yang luas. Meski telah dikategorisasi pada 1960-an, penyakit parah pertama yang diketahui disebabkan oleh Virus Corona adalah Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) yang mulai menjadi epidemi di China pada 2003.

Sementara, penyakit kedua yang mewabah adalah Middle East Respiratory Syndrome (MERS) yang bermula di Arab Saudi pada 2012.

Dan, pada 31 Desember 2019, pihak berwenang China memberitahukan pada Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengenai wabah virus corona baru yang menyebabkan penyakit parah, yang kemudian dinamai SARS-CoV-2.

Hingga kini, virus tersebut memicu pandemi COVID-19 yang menyebar ke seluruh benua, kecuali Antartika. Tak lama setelah epidemi terjadi, para ilmuwan China mengurutgenom SARS-CoV-2 dan menyediakan data bagi para peneliti di seluruh dunia.

Andersen dan para koleganya menggunakan data sekuens tersebut untuk mengeksplorasi asal mula dan evolusi SARS-CoV-2 dengan fokus ke sejumlah fitur khas virus tersebut.

Para ilmuwan menganalisis pola genetik (genetic template) protein lonjakan (spike proteins), armature atau pelindung di bagian luar virus yang digunakannya untuk menangkap dan menembus dinding luar sel manusia dan hewan.

Lebih khusus, mereka berfokus pada dua fitur penting dari protein lonjakan: domain pengikat reseptor atau receptor-binding domain (RBD), sejenis pengait yang menempel pada sel inang, dan cleavage site yang memungkinkan virus untuk membuka celah dan memasukkan sel inang.

Bukti Asal Usul COVID-19


Para ilmuwan menemukan bahwa bagian RBD dari protein lonjakan SARS-CoV-2 telah berevolusi sehingga bisa efektif menargetkan fitur molekuler di bagian luar sel manusia yang disebut ACE2 -- reseptor yang terlibat dalam pengaturan tekanan darah.

Protein lonjakan SARS-CoV-2 nyatanya sangat efektif untuk mengikat sel-sel manusia. Dari situ, para ilmuwan menyimpulkan, itu adalah hasil seleksi alam dan bukan produk rekayasa genetika.

Bukti evolusi alami ini didukung oleh data tulang punggung (backbone) SARS-CoV-2, yakni struktur molekul keseluruhannya.

Jika seseorang berusaha merekayasa virus corona baru sebagai patogen, misalnya, mereka harus membuatnya dari backbone virus yang diketahui bisa menyebabkan penyakit.

Namun, para ilmuwan menemukan bahwa backbone milik SARS-CoV-2 berbeda secara substansial dengan yang ada pada virus corona lain, yang telah dikenal sebelumnya, dan kebanyakan menyerupai virus terkait yang ditemukan pada kelelawar dan trenggiling.

"Kedua fitur virus, mutasi pada bagian RBD dari protein lonjakan dan backbone yang berbeda mengesampingkan dugaan manipulasi laboratorium sebagai potensi asal SARS-CoV-2," kata Andersen.

Temuan Andersen dan koleganya disambut baik Josie Golding, PhD, pemimpin bagian epidemi Wellcome Trust, yang berpusat di Inggris.

Ia menyebut, temuan tersebut sangat krisial dengan menghadirkan pendapat berbasis bukti untuk menepis rumor yang beredar tentang asal-usul virus SARS-CoV-2 yang memicu pandemi COVID-19.

Jadi, dari Mana Virus Pemicu COVID-19 Berasal?

Menurut ilmuwan, berdasarkan analisis urutan genom, ada dua kemungkinan,

Pertama, virus berevolusi ke kondisi patogen saat ini melalui seleksi alam di inang non-manusia dan kemudian melompat ke manusia.

Proses itu mirip dengan wabah Virus Corona yang terjadi sebelumnya, manusia terinfeksi virus setelah terpapar langsung dengan musang (SARS) dan unta (MERS).

Para peneliti menduga kelelawar sebagai reservoir yang paling mungkin untuk SARS-CoV-2. Namun, sejauh ini belum tercatat ada kasus transmisi langsung dari kelelawar ke manusia.

Vaksin dan Obat COVID-19

Pandemi Virus Corona COVID-19 tidak dapat dikendalikan hanya dengan  strategi menguatkan kekebalan tubuh. Seorang ilmuwan terkemuka China dalam penyakit pernapasan, Zhong Nanshan mengatakan, vaksin yang akan menjadi kunci untuk mengatasinya. 

"Tidak ada bukti bahwa seseorang menjadi kebal selamanya terhadap penyakit yang berhubungan dengan coronavirus setelah terinfeksi sekali," katanya pada konferensi pers di Guangzhou, Rabu 18 Maret 2020 seperti dikutip dari China Daily Kamis (19/3/2020).

"Mengontrol penyakit menular dari sumber dan hulu adalah metode yang paling kuno dan paling efektif," imbuh Zhong.

China telah bergerak cepat dalam pengembangan vaksin dan kerjasama internasional yang diperlukan dalam hal ini, kata Zhong, ahli epidemiologi dan pulmonologi yang juga merupakan salah satu spesialis terkemuka yang memainkan peran penting dalam perang China melawan COVID-19 dan SARS pada 2003.

"Tidak peduli negara mana yang memproduksi vaksin pertama, pasti tidak akan dapat memasok dalam jumlah cukup ke seluruh dunia," katanya lagi seraya menambahkan bahwa baksin harus tersedia dari berbagai sumber.

Menanggapi pertanyaan tentang asal-usul coronavirus novel, Zhong mengatakan bahwa meskipun Wuhan pertama kali melaporkan wabah itu, tidak ada bukti bahwa kota tersebut adalah sumber Virus Corona baru yang menyebabkan COVID-19.

Lebih banyak yang perlu dipahami tentang COVID-19 dan kerja sama internasional penting dalam bidang-bidang seperti pengembangan obat, tutur Zhong lagi.

Zhong dan tim berencana untuk mengeluarkan laporan pekan depan tentang pengobatan klinis dalam mengobati pasien Virus Corona COVID-19.

Zhong menekankan pentingnya tes asam nukleat untuk orang-orang yang kembali dari luar negeri, karena kasus impor sekarang merupakan mayoritas kasus baru di China. Menurutnya, virus itu tetap sangat menular dan beberapa orang yang terinfeksi tidak menunjukkan gejala ketika memasuki Negeri Tirai Bambu.

Obat COVID-19 Siap Diproduksi Massal

China menyelesaikan penelitian klinisnya terhadap Favipiravir, obat antivirus untuk mengobati penyakit Virus Corona atau COVID-19. Favipiravir merupakan obat influenza yang diizinkan untuk digunakan secara klinis di Jepang pada 2014.

Hasilnya, Favipiravir tidak menunjukkan reaksi merugikan dalam uji klinis, kata Zhang Xinmin, Direktur Pusat Nasional untuk Pengembangan Bioteknologi China di bawah Kementerian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.

Lebih dari 80 pasien COVID-19 ikut berpartisipasi dalam uji klinis di Rumah Sakit Rakyat Ketiga di Shenzhen, Guangdong, China selatan, termasuk 35 pasien menerima pengobatan Favipiravir dan 45 pasien dalam kelompok kontrol.

Hasil menunjukkan, pasien yang menerima pengobatan Favipiravir menjadi negatif COVID-19 dalam waktu yang lebih singkat dibandingkan dengan pasien dalam kelompok kontrol, Seperti dilansir Xinhua, Rabu (18/3/2020).

Sebuah studi klinis acak multipusat yang dipimpin Rumah Sakit Zhongnan di Universitas Wuhan juga menunjukkan efek terapeutik Favipiravir jauh lebih baik daripada kelompok kontrol.

"Favipiravir telah direkomendasikan kepada tim perawatan medis, serta harus disertakan dalam diagnosis dan rencana perawatan untuk Virus Corona COVID-19 secepatnya," kata Zhang.

Sebuah perusahaan farmasi China telah mengantongi izin untuk memproduksi obat ini secara massal dan memastikan pasokan yang stabil, tambah Zhang.

Dokter di Jepang dilaporkan menggunakan Favipiravir, yang juga dikenal dengan nama Avigan dalam studi klinis terhadap pasien COVID-19 dengan gejala ringan hingga sedang. Harapannya, Favipiravir atau Avigan bisa mencegah virus berkembang biak di tubuh pasien.

Namun, keterangan seorang sumber di Kementerian Kesehatan Jepang mengindikasikan, obat tersebut tidak efektif pada pasien dengan gejala yang lebih parah.

"Kami telah memberikan Avigan pada 70 hingga 80 pasien, namun tampaknya tidak efektif ketika virus terlanjur berlipat ganda (di tubuh pasien)," kata sumber tersebut pada Mainichi Shimbun.

Limitasi yang sama juga teridentifikasi dalam studi yang melibatkan pasien COVID-19 yang diobati dengan kombinasi antiretroviral HIV lopinavir dan ritonavir, demikian ditambahkan sumber.

Terapi Sel Induk


Seorang wanita berusia 65 tahun asal Kunming, China mengalami kondisi pemulihan yang signifikan usai dinyatakan terinfeksi Virus Corona. Pasien yang selama ini dirawat intensif di Rumah Sakit Baoshan tersebut secara mengejutkan pulih setelah diberi terapi sel induk atau stem cell oleh para ilmuan di China, demikian dikutip dari laman SCMP.

Dokter Hu Min, yang memimpin tim penelitian tersebut mengklaim bahwa pasien tersebut mampu berdiri dan kembali berjalan pasca-diberi suntikan sel induk.

Sel punca alias stem cell merupakan sel induk atau sel murni yang bisa membelah diri berkali-kali sesuai keperluan. Kemampuannya ini pun dimanfaatkan untuk menggantikan sel-sel yang rusak dan mengatasi suatu penyakit tertentu.

Stem cell bisa diperoleh dari empat sumber yakni embrio berusia 3-5 hari, tali pusar, jaringan tubuh pasien itu sendiri seperti lemak atau sumsum tulang belakang (sel punca dewasa) dan pluripotent stem cell hasil rekayasa genetika.

"Meskipun hanya satu kasus yang berhasil, itu bisa sangat penting dan menginspirasi praktik klinis serupa dalam merawat pasien Covid-19 atau Virus Corona yang sakit kritis," kata studi tersebut.

Meski demikian, cara pengobatan ini masih dianggap kontroversial menurut uji klinis dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Pasien lansia itu tiba di Kunming pada 21 Januari 2020 setelah melakukan perjalanan dari Wuhan, ibukota provinsi Hubei, China yang diduga menjadi pusat penyebaran wabah.

Seminggu kemudian dia jatuh sakit dengan demam ringan, kelelahan dan batuk. Mengikuti pedoman ketat yang ditetapkan oleh pemerintah untuk perawatan pasien coronavirus para dokter dianjurkan untuk memberikan obat antivirus dan antibiotik.

Kondisinya semula baik, namun tiba-tiba turun drastis beberapa hari kemudian. Saat kondisinya turun, keadaan organ-organ pada tubuh juga menurun. Sehingga dokter bergerak cepat dan berkonsultasi dengan komite etika rumah sakit dan keluarga pasien, terapi sel induk dimulai pada 9 Februari terhadap pasien yang terdampak Virus Corona tersebut.

Para dokter mempertimbangkan untuk menggunakan terapi sel induk karena COVID-19 telah menyebabkan kerusakan parah pada paru-paru, hati dan organ-organ lainnya.

Mulanya, pasien Kunming diberi suntikan pertama dari tiga suntikan pada 9 Februari 2020. Setelah tidak menunjukkan efek samping terhadap dosis awal itu, ia diberi suntikan selanjutnya. Pada 13 Februari, dia bisa bangun dari tempat tidur dan berjalan-jalan dengan bantuan petugas.

Dia diberikan suntikan terakhir pada 15 Februari, dan dua hari kemudian bisa meninggalkan unit perawatan intensif dan kembali ke bangsal biasa.

Menurut Dokter Li Honghui, yang terlibat dalam percobaan mengatakan bahwa suntikan sel induk dapat memberikan hasil yang signifikan dalam waktu tiga hari.

"Kami tidak bisa berpegang pada aturan, kami harus berani dan inovatif," ujar Li.

Teknologi sel punca muncul pada 1980-an tetapi tetap sangat kontroversial. Para ilmuwan pada mulanya mempertimbangkan untuk menggunakan embrio manusia sebagai sumber sel, tetapi gagasan itu dianggap kontroversi karena alasan etis.

Komunitas peneliti merespons dengan mengusulkan metode alternatif untuk memanen sel punca, seperti mengubah sel jaringan normal menjadi sel punca, tetapi upaya itu ternoda oleh serangkaian skandal di Amerika Serikat, Jepang, dan Korea Selatan yang melibatkan pembuatan data eksperimental.

sumber : liputan6.com

Please Comment Accordance Topics..!
EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search