Menjemput Para Penumpang Lion Air JT 610

- 11/02/2018
Menjemput Para Penumpang Lion Air JT 610
Amirullah, 26 tahun, melewati Senin pagi (29/10/2018) dengan cara yang menggidikkan. Menjelang siang, sekitar 10.30 WIB, ia sudah berada di perairan Tanjung Pakis Karawang. Ia menyaksikan perairan yang berubah drastis: dari yang tadinya bening kemudian — di satu titik — menjadi berwarna abu-abu keruh. Dan satu lagi: sebaran potongan kaki, tangan, hingga ceceran usus manusia.

"Yang kami temui itu sudah terpotong-terpotong dan terpenggal-penggal, per bagian, jadi sudah tidak utuh lagi," ujarnya.

Bau avtur dan daging bersirobok ke lubang hidungnya, datang dan pergi, ditebas angin laut.

Amirullah adalah penyelam yang sudah delapan tahun bergabung dengan Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (BNPP), dahulu disebut Basarnas. Dia bertugas di satuan kerja Basarnas Special Group (BSG), divisi khusus para penyelam ahli.

Pagi itu, 42 personel BSG dikerahkan untuk "menjemput" para penumpang pesawat Lion Air PK-LQP nomor penerbangan JT-610 yang jatuh di perairan Karawang, Jawa Barat. Pesawat itu hilang kontak pada pukul 06.32 WIB atau 23.32 UTC [lihat infografik].

Mereka melakukan apel rutin di Kantor Pusat Basarnas lebih pagi, biasanya digelar pukul 08.00 digelar hari itu dimajukan menjadi pukul 07.15. Hal itu dilakukan karena mereka menerima kabar mengenai pesawat yang hilang kontak.

"Apel belum usai, titik koordinat komunikasi terakhir pesawat Lion Air JT 610 sebelum hilang kontak sudah dipastikan," kata Komandan BSG Charles Batlajery.

Sekitar pukul 08.30 apel dibubarkan. Charles Batlajery bersama 45 timnya, termasuk Amirullah, merapat ke Tanjung Priok. Mereka bergerak menuju perairan Karawang, dan langsung menyisir area yang diduga tempat jatuhnya pesawat. Mereka adalah tim kedua yang bergerak ke zona itu.

Saat menjumpai potongan tubuh, para personel BSG yang disebar di beberapa perahu karet, bergegas mengambilnya. Posisi mereka saat itu sekitar 62 kilometer dari Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, dan sekitar 12 kilometer dari Pelabuhan Pakis, Karawang.

"Rasa takut itu wajar," ujar Amirullah, "namanya manusia, kalau kita tak punya rasa takut, ya, kita bukan manusia."

Satu sisi ia kaget dan merasakan ketakutan luar biasa. Namun ia juga tahu temuan-temuannya itu bisa melegakan keluarga korban dalam soal kepastian, kendati persoalan belum tuntas sepenuhnya.

"Kami tahu, keluarga korban di sana menunggu kepastian. Sedangkan kami sudah dua hari ini, hanya menemukan potongan-potongan. Pasti sulit diidentifikasi," katanya.

Kendati bukan situasi yang normal, namun Amirullah bukan pemula dalam menghadapi situasi demikian. Ia terlibat dalam evakuasi korban kecelakaan pesawat Airbus A320-216 milik maskapai Air Asia rute Surabaya tujuan Singapura, pada Minggu 28 Desember 2014. Hasil investigasi KNKT, kapal terbang yang membawa 162 penumpang itu jatuh dengan kecepatan 6.000 meter per menit dari ketinggian 38.000 kaki menghantam perairan Selat Karimata. Dari 100 jenazah yang ditemukan, sebanyak 68 yang terdeteksi identitasnya.


Empati yang Berbunga di Dasar Laut
Evakuasi pada hari kedua, Selasa (30/10), dimulai sejak jam tujuh pagi. Tim SAR Gabungan yang terdiri dari Basarnas dan TNI AL disebar di beberapa kapal karet.

Saya ikut perahu karet Basarnas, bersebelahan dengan Nur Hadi, 31 tahun, anggota BSG. Perahu yang saya tumpangi berada di sekitar lokasi pantau Kapal Negara SAR Basudewa. Tugas Nur Hadi dan para rekannya, menyisir area prioritas utama pencarian dan penyelamatan.

Dari atas perahu karet, terlihat potongan tubuh manusia melayang di permukaan laut.

"Hingga kedalaman 10 meter dari atas permukaan laut pun,” kata Hadi menjelaskan, “yang mengambang hanya potongan seperti ini.”

Balok batu berukuran sekitar 40 sentimeter diikat tali bewarna oranye. Lalu batu yang dipergunakan sebagai jangkar itu diceburkan ke dasar laut. Sedangkan Nur Hadi, sibuk memakai pakaian selam yang berlapis ganda dan mempersiapkan perlengkapan lain seperti selang tabung oksigen.

Tak perlu waktu lama, Nur Hadi menembus dasar laut dengan rute yang sudah dibentuk dari tali bewarna oranye. Di kedalaman sekitar 25 meter, cahaya matahari tak ada lagi. Gelap. Pekat oleh lumpur.

Kemudian di kedalaman sekitar 28 meter, dasar laut adalah lumpur yang mudah menguar jika ada gerakan benda lain. Saat itu Nur Hadi dan para penyelam lainnya hanya bisa meraba-raba, mencari benda yang kemungkinan besar berhubungan dengan serpihan pesawat, korban, maupun benda-benda bawaan penumpang.

Usai menyelam, Nur Hadi bercerita, di kedalaman sekitar dua meter, ia menemukan potongan paha kanan dengan ukuran seusia balita. Saat itu Nur Hadi tertegun. Dia diam nyaris selama satu menit.

Saat itu pikirannya hanya tertuju ke rumahnya di Surabaya, Jawa Timur. Di sana istri dan kedua anaknya menanti Nur Hadi pulang kerja. Anak pertamanya baru berusia tiga tahun, sedangkan anak keduanya belum genap berumur satu tahun.

"Saya langsung teringat anak saya. Ya, begitulah," katanya tanpa memandang wajah saya, dan lebih memilih memandang laut lepas.

Tapi Nur Hadi bergegas mempertebal sikap bahwa dia harus bertindak secara profesional. Sebab dia yakin para keluarga korban menunggu dan memikul beban yang lebih berat darinya.

"Itu hanya satu menit. Setelah itu saya coba hilangkan hal-hal tersebut karena kami membantu sesama," lanjutnya.

Pesan dari Amirullah dan Nur Hadi untuk keluarga korban hanya satu: turut berduka dan semoga terus dikuatkan. Dia meminta kelurga korban sabar menanti kerja keras timnya yang bekerja sehari penuh.

"Di sini kami sedang dan selalu berusaha maksimal melakukan apa yang bisa kita lakukan, semoga apa yang diharapkan keluarga bisa bisa cepat kami temukan," ucap Amirullah.

Sumber Tirto.id

Please Comment Accordance Topics..!
EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search